Eksistensi Matematika Dan Integrasi Didactical Design Research  Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Eksistensi Matematika Dan Integrasi Didactical Design Research Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

www.unwmataram.ac.idDr. Muhamad Galang Isnawan, S.Pd., M.Pd. (Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Pusat Studi DDR Wilayah Mataram)

Perubahan adalah hal yang mutlak terjadi dalam kehidupan. Pada sudut pandang filsafat Critical Pedagogy, perubahan merupakan sesuatu yang wajar karena realitas belumlah selesai sehingga kehidupan manusia pun selalu berada pada process of becoming (Suryadi, 2019b). Oleh karena itu, perubahan kurikulum merupakan hal yang wajar dalam dunia pendidikan, termasuk perubahan dari Kurikulum 2013 (K-13) menjadi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka hadir sebagai salah respon terhadap Revolusi Industri 4.0 dan perwujudan dari Society 5.0. Pada dasarnya, Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) merupakan salah satu bentuk perbaikan atas implementasi dari K-13.

 

Ada beberapa konsep dan istilah penting yang harus dipahami dalam IKM, seperti: Fase, Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), dan Profil Pelajar Pancasila. Setidaknya ada 7 Fase dalam IKM, dimulai dari Fase Pondasi (PAUD), Fase A (Kelas I-II), Fase B (III-IV), Fase C (V-VI), Fase D (Kelas VII-IX), Fase E (Kelas X), dan diakhiri Fase F (Kelas XI-XII). CP adalah kompetensi pembelajaran yang harus dicapai murid pada setiap Fase. Sederhananya, CP mengganti posisi KI-KD yang ada pada K-13, tetapi lebih sederhana dan memiliki format dalam bentuk paragraf. ATP kemudian berkaitan dengan urutan dari semua tujuan pembelajaran (TP) yang ada pada suatu Fase. Setiap Fase bisa jadi memiliki ATP yang berbeda-beda tergantung pada situasi atau kondisi murid dan lingkungan belajar di sekolah (BSKAP, 2022a).

 

Profil Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia yang mampu bertindak sebagai pelajar sepanjang hayat. Selain itu, Profil Pelajar Pancasila juga mencerminkan kompetensi pelajar Indonesia yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Ada enam jenis dimensi dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu: (1) Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia; (2) Berkebinekaan Global; (3) Mandiri; (4) Bergotong Royong; (5) Bernalar Kritis; dan (6) Kreatif. Untuk mencapai ke-6 dimensi tersebut dalam IKM disusun suatu kegiatan yang disebut sebagai Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Perlu untuk diperhatikan bahwa P5 tidak terikat pada CP dan lintas mata pelajaran (BSKAP, 2022b).

 

Di samping itu, ada beberapa konsep yang cukup dominan dalam IKM, seperti: asesmen diagnostik, modul ajar, dan refleksi. Sebelum menyusun bahan ajar atau memulai kegiatan pembelajaran, asesmen diagnostik harus dilakukan dalam IKM. Pada dasarnya, asesmen diagnostik berkaitan dengan pemetaan atas kompetensi, kekuatan, dan kelemahan murid, seperti: pengetahuan kemampuan awal atau materi prasyarat siswa, gaya belajar, dan minat belajar murid (Direktorat Sekolah Dasar, 2020). Meskipun, tidak menutup kemungkinan pada pemetaan ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, lingkungan belajar, latar belakang keluarga murid, dan semua aspek yang berkaitan dengan murid.

 

Selain itu, modul ajar dalam IKM harus disusun dan diberikan berdasarkan pemetaan terhadap hasil asesmen diagnostik. Hal ini dimaksudkan agar murid belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya (BSKAP, 2022b). Teaching at the right level merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut. Refleksi kemudian merupakan hal wajib yang harus dilakukan semua pihak di sekolah selama IKM, termasuk refleksi oleh murid. Refleksi merupakan salah satu bentuk asesmen. Asesmen sebagai pembelajaran (assessment as learning) merupakan salah satu jenis asesmen yang paling ditonjolkan dalam IKM.

 

Selanjutnya, matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah memiliki dua buah karakteristik, yaitu elemen konten dan elemen proses. Elemen konten merujuk pada matematika sebagai materi pembelajaran yang harus dipelajari murid di sekolah. Elemen konten dalam IKM dibagi menjadi enam, yaitu: bilangan, aljabar, pengukuran, geometri, analisis data dan peluang, serta kalkulus yang bertindak sebagai elemen konten pilihan bagi kelas XI dan XII. Sedangkan elemen proses berkaitan dengan matematika sebagai alat konseptual yang digunakan untuk mengkonstruksi dan merekonstruksi materi pembelajaran matematika berupa aktivitas mental yang membentuk alur berpikir dan alur pemahaman yang dapat mengembangkan kecakapan murid. Elemen proses terdiri atas penalaran dan pembuktian matematis, pemecahan masalah matematis, komunikasi, representasi matematis, dan koneksi matematis (BSKAP, 2022a).

 

Berkaitan dengan IKM dan matematika, diperkenalkan salah satu jenis desain penelitian yang bisa diintegrasikan ke dalam dua hal tersebut, yaitu Didactical Design Research (DDR). DDR merupakan desain penelitian asli Indonesia yang ditemukan oleh salah seorang Guru Besar di Universitas Pendidikan Indonesia, yaitu Prof. Dr. H. Didi Suryadi, M.Ed. Pada dasarnya, pendekatan penelitian yang digunakan dalam DDR adalah pendekatan kualitatif dengan berdasar pada paradigma interpretif dan kritis (Suryadi, 2019a). DDR dikatakan berdasarkan pada paradigma interpretif karena berusa untuk mengkaji dampak suatu bahan ajar terhadap cara berpikir murid, khususnya learning obstacle (LO) atau hambatan belajar. DDR juga disebutkan berdasarkan pada paradigma kritis karena berusaha untuk menyajikan solusi alternatif dalam bentuk desain bahan ajar (didaktis). Desain didaktis dalam konteks ini kemudian harus disusun berdasarkan hasil analisis LO pada paradigma sebelumnya.

 

Adapun filsafat yang mendasari paradigma interpretif dalam DDR adalah hermeneutics (mengkaji tentang makna), phenomenology atau lebih tepatnya hermeneutics phenomenology (mengkaji pengalaman yang berkaitan dengan makna), dan etnomethodology (mengkaji kultur komunitas demi menghasilkan cara bersama). Sedangkan filsafat yang melandasi paradima interpretif dalam DDR adalah critical pedagogy. Sederhananya, critical pedagogy menganggap bahwa tidak ada desain didaktis yang lengkap, melainkan memiliki kekurangan sehingga harus ada desain didaktis revisi terhadap desain didaktis sebelumnya (Suryadi, 2019a).

 

DDR kemudian terdiri atas tiga prosedur atau langkah penelitian, yaitu analisis prospektif (analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran), analisis metapedadidaktis (analisis situasi didaktis-pedagogis), dan analisis retrospektif (mengaitkan hasil antara analisis prospektif dan analisis metapedadidaktik) (Suryadi, 2019b). Ringkasnya, DDR memiliki berapa karakteristik utama, seperti: (1) mewajibkan peneliti melakukan analisis hambatan belajar siswa sebelum menyusun desain; (2) desain didaktis yang dibuat harus berdasarkan hasil analisis hambatan belajar tersebut; (3) mengimplementasikan pembelajaran sesuai dengan desain didaktis yang disusun sebelumnya; dan (4) melakukan refleksi, seperti perbaikan terhadap desain didaktis berdasarkan hasil implementasi. Pada konteks ini, DDR memiliki keterkaitan dengan IKM setidaknya dalam dua hal, yaitu:

 

  1. Asesmen diagnostik pada IKM dan analisis hambatan belajar pada DDR merupakan kegiatan wajib yang harus dilakukan sebelum pembelajaran pada IKM dan DDR. Asesmen diagnostik dan analisis hambatan belajar kemudian memiliki irisan dan perbedaan yang bisa saling melengkapi.
  2. Modul ajar pada IKM dan desain didaktis pada DDR secara berturut-turut haruslah disusun berdasarkan hasil asesmen diagnostik dan analisis hambatan belajar yang dilakukan sebelumnya.

 

Di samping itu, DDR memandang matematika sebagai hubungan triadik antara mental action (MA), ways of thinking (WoT), dan ways of understanding (WoU) (Suryadi, 2019a). MA merujuk pada karakteristik berpikir murid, seperti: menemukan solusi, menyelesaikan masalah, mencari, menginterpretasi, mengestimasi, dan lain-lain. WoT merupakan cara berpikir murid dengan karakteristik MA. Sedangkan WoU berkaitan dengan kumpulan struktur yang terdiri atas aksioma dan definisi, teorema, bukti, solusi, dan masalah (Harel, 2008). Pada dasarnya, sudut pandang terkait matematika yang digunakan dalam DDR berkaitan dengan sudut pandang IKM terhadap matematika, khususnya elemen proses dalam CP yang berkaitan dengan aktivitas mental, alur berpikir, dan alur pemahaman. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa

 

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa eksistensi matematika, baik dalam IKM maupun DDR ternyata dilihat dari sudut pandang yang sama, yaitu matematika sebagai hubungan triadik antara MA, WoT dan WoU. Selain itu, prosedur dalam DDR bisa terintegrasi dalam IKM sebagai salah satu bentuk desain penelitian yang bisa digunakan dalam menyusun modul ajar di sekolah.

 

Referensi

BSKAP. (2022a). Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Matematika Fase A-Fase F. BSKAP.

BSKAP. (2022b). Pembelajaran dan Asesmen. BSKAP.

Direktorat Sekolah Dasar. (2020, Oktober 2). Asesmen Diagnostik. Direktorat Sekolah Dasar.

Harel, G. (2008). What is Mathematics? A Pedagogical Answer to a Philosopical Question. In B. Gold & R. A. Simons (Eds.), Proof and other Dilemmas: Mathematics and Philosophy (pp. 265–290). The Mathematical Assosiation of America.

Suryadi, D. (2019a). Landasan Filosofis Penelitian Desain Didaktis (DDR). Pusat Pengembangan DDR Indonesia.

Suryadi, D. (2019b). Penelitian Desain Didaktis (DDR) dan Implementasinya. Gapura Press.

 

One thought on “Eksistensi Matematika Dan Integrasi Didactical Design Research Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *