Terorisme dan Cinta Buta ?


  • 16 Mei 2018
  • Dr. Lalu Sirajul Hadi

SUNGGUH para teroris selama ini telah mengalami gagal paham, dalam bagaimana idealnya manusia saling melihat dan membaca. Aksi dan tindakan para teroris yang terjadi selama ini, telah menegaskan diri dan kelompoknya sebagai pecundang yang gagal, dalam belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan dan tentu juga tentang cinta dan hak asasi.

Membajak agama tertentu sebagai atribut dan instrumen pembenarannya, justru telah menunjukan betapa sempitnya  ruang baca mereka tentang berbangsa dan beragama. Bahwa bangsa dan agama adalah pertautan nilai nilai luhur, yang saling menginspirasi bagi proses damai dan sejahteranya berkehidupan. Sehingga, bangsa dan agama selalu mengangkat tinggi nilai-nilai kebaikan universal itu dalam hakekat dan harkat yang mulia.

Aksi terorisme adalah kejahatan. Radikalisme adalah kebiadaban . Agama-agama, tak membenarkan sedikit pun prilaku kejahatan dan kebiadaban. Apalagi kejahatan dan kebiadaban kemanusiaan. Sebuah ironi, adanya ideologi yang diyakini suci, tapi tidak peka dan buta tentang cinta dan kasih sayang.

Bunuh diri menuju syurga, adalah pepesan dan mimpi disiang bolong. Nalar kajian dan pendapat itu sesat dan menyesatkan. Dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Shahih, diceritakan oleh Rasulullah Muhammad saw, bahwa tindakan mempercepat kematian atau bunuh diri itu adalah prilaku dan amalan penghuni neraka. Bahkan dalam hadits lain juga, Rasul menyampaikan ketidak mauannya untuk mensholatkan jenazah orang yang mati akibat bunuh diri. Betapa naif dan buruknya perilaku itu ?

Memahami pesan dan sikap Nabi tersebut, pelaku teror atau teroris yang melakukan tindakan pembunuhan manusia dengan cara bunuh diri, menjanjikan dirinya surga, menyebut dirinya pengantin adalah cinta buta, tak berdasar dan hanya karena sempit dan kekonyolan serta keterbatasannya. 

Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dan beragama, tentu geli dan juga pasti antipati terhadap aksi aksi terorisme yang terjadi selama ini. Berapa tidak , jika ruang pembenaran. terhadap aksi terorisme ini terbuka, maka keutuhan bangsa dan kemanusiaan adalah target yang ingin dicabiknya, dan terlalu mahal bagi kita, untuk membiarkan semua itu.

Oleh sebab itu, kerja kerja kesadaran, sikap sikap keagamaan, nilai nilai kebangsaan dan edukasi kontra radikalisme dan kontra terorisme , harus menjadi pengetahuan dan wawasan bersama.

Keterlibatan semua stake holder  ummat dan jamaah, harus diperankan dengan memberikan kesadaran, dengan dialog dan penjernihan, di semua panggung dan level interaksi sosial, budaya, politik, pendidikan. Bahwa penyadaran itu urgen dilakukan.

Terorisme merupakan salah satu bentuk eksterimisme, yang disimpulkan keluar dari ajaran mainstream agama- agama. Sehingga pada saat nya, ia akan hilang dan menjauh, seiring dengan semakin membaiknya rasionalitas dan kebenaran yang merujuk pada kerahmatan, bukan kemaksiatan. Itulah tugas dan tanggung jawab kolektif semua kita hari ini.

Dalam referensi Islam, tak ada ruang sedikit pun yang membenarkan, tindakan kejahatan dan kebiadaban. Islam sangat serius dan jujur bahwa ajakan dan dakwah itu hanya boleh dilakukan secara elegan dan baik. Semua harus dilakukan bil hikmah wal mau'idhatil hasanah wajadilhu billati hiya ahsan. Bahwa setiap ajakan apapun, harus dilakukan dengan kebaikan (hikmah), dengan diskusi dan argumentasi, bukan dengan kekerasan. 

Dalam konteks tragedi demi tragedi yang mendera kita saat ini, penting bagi kita untuk tetap mawas dan khawas, sehingga nilai nilai kemanusiaan harus kita jaga pada marwahnya yang mulia.

*Dosen UNW Mataram